Halaman

Kamis, 04 Oktober 2012

PUTRA TIDAR PERKASA FC

Lama vacum dari dunia persepak bolaan nusantara banyak dari punggawa2 PTP FC yang merindukan untuk memakai JERSEY kebesaran PUTRA TIDAR PERKASA FC,
melalui akun FACEBOOK nya, salah satu bomber andalan PTP FC mengungkapkan keinginanya untuk segera memakai JERSEY PTP FC, banyak sekali para punggawa2 bahkan veteran yang ingin sekali bermain, bertanding dan berlatih bersama
Berikut kutipan dari  Dedy Anno Arkadhia melalui akun FACEBOOKnya 
" merindukan memakai kaos hijau khas ptp dgn titel desa beseran di dada...hahaha,ptp, kpn maen lg? "
ini membuktikan bahwa ikatan kekeluargaan dalam tubuh PUTRA TIDAR PERKASA FC masih tetap utuh terjaga....
MARI KITA BUAT GELORA UTAMA JAMBE WANGI ramai kembali dengan pertandingan2 PTP FC
Mari kita buat genderang drum dan teriakan dari ANBES MANIA selalu menghiasi STADION kebanggaan kita

FORSA PTP











Selasa, 02 Oktober 2012

NETRALIZER ala ANBESMANIA

Banyak sekali NETRALIZER yang ada di dalam ANBESMANIA, tapi sorry.... baru satu orang yang bisa ane publikasikan ke dulur dulur semua

Salah satu dari ANBESMANIA ini mengaku fans dari NETRAL atau NETRALIZER sejati, dimanapun NETRAL manggung, senantiasa dia selalu hadir atau ada di tengah tengah lapangan bersama NETRALIZER di seluruh INDONESIA, Tak perduli jauhnya jarak, tak peduli berapa ongkos yang harus dia keluarkan, yang penting satu hati, satu jiwa untuk NETRALIZER
Banyak yang bilang atau menyebutnya KEMINDHEKEM NETRALIZER MAGELANG. Tapi itu hanya sebatas sebutan dari mulut ke mulut
berikut ane kasih foto dari NETRALIZER dari ANBESMANIA..



Foto saat perjalanan Nonton NETRAL di BANDUNG




Mungkin ANBESMANIA belum punya nama untuk NETRALIZER ANBES
Bagaimana jika ANBESMANIA hari ini mendeklarasikan untuk NETRALIZER ANBES dengan nama
KEMINDHEKEM NETRALIZER ANBES
"One for all, all for NETRAL"









Rabu, 19 September 2012

KECERIAAN DI PASAR MALAM

Keceriaan tampak jelas dari raut wajah para dulur dulur ANBESMANIA saat adanya PASAR MALAM yang di adakan di (GUP) GELORA UTAMA PUTRA TIDAR PERKASA, canda tawa dan senyuman nampak jelas saat salah seorang photographer ANBESMANIA mengabadikanya













Kamis, 13 September 2012

WELCOME BACK TO HOME MY FRIEND

Kabar gembira ane dapat dari temen temen yang senantiasa mengikuti jalanya sidang saudara kita di pengadilan
Hakim memutuskan keputusan yang sangat melegakan hati kita semua
sidang memutuskan bahwa saudara saudar kita di jatuhi hukuman 3 bulan 15 hari di potong masa tahanan
jadi di perkirakan saudara saudara kita akan bebas pada hari selasa atau rabu depan
amin amin ya robbal allamin.........

WELCOME TO HOME MY FRIEND




SENYUM DAN CANDA TAWA KALIAN KAMI TUNGGU DI ANBESMANIA










Selasa, 04 September 2012

EXSPRESI KEKAGUMAN KEPADA ANBESNITA

Emang tak bisa di pungkiri bahwa kecantikan para ANBESNITA sangat berpengaruh di mata lelaki
kecantikan yang alami begitu terpancar dari raut wajah para ANBESNITA






Berikut ini adalah EXSPRESI para cowok saat membuka BLOG ini di mana berisikan para ANBESNITA

CEKIDOOTT
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V
V



TAPI INGAT...!!!!!
WANI NYENTUH ATAU NYOLEK..!!!
SI MBAH ANBES YANG BERTINDAK

 


 anbesmania



Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Hari Raya IDUL FITRI 1433H 2012M




Kami segenap Keluarga Besar SNBESMANIA mengucapkan

" MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN "

" MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN "

Kami mohon maaf yang sebesar besarnya jika selama ini keluarga besar ANBESMANIA punya salah
baik secara lisan, tulisan ataupun gambar yang ada pada BLOG ini
kami bukanlah manusia yang sempurna


Satu- satunya orang yang mengabadikan foto proklamasi kemerdekaan RI

Frans Soemarto Mendoer

 Fotografi memang bukan hanya menjadi saksi sejarah, tapi juga menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Frans Soemarto Mendoer sangat memahami hal tersebut. Karena itulah, setelah mendapat kabar dari seorang sumber di harian Jepang Asia Raya bahwa akan ada kejadian penting di rumah kediaman Soekarno, Frans langsung bergerak menuju rumah bernomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur itu sambil membawa kamera Leica-nya. Dan benar, pagi itu, Jumat, 17 Agustus 1945, sebuah peristiwa penting berlangsung di sana: pembacaan teks proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Soekarno.
 Saat itu Frans hanya memiliki sisa tiga lembar plat film. Jadi dari peristiwa bersejarah itu, ia hanya bisa mengabadikan tiga adegan. Yang pertama, adegan Soekarno membacakan teks proklamasi. Yang kedua, adegan pengibaran bendera Merah Putih yang dilakukan oleh Latief Hendraningrat, salah seorang anggota PETA. Dan yang ketiga, suasana ramainya para pemuda yang turut menyaksikan pengibaran bendera. Setelah menyelesaikan tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah kediaman Soekarno karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah memburunya.

Frans menjadi satu-satunya orang yang mengabadikan momen sakral itu karena Alex Alexius Impurung Mendoer, kakak kandungnya yang juga sempat memotret prosesi bersejarah tersebut, harus merelakan kameranya dirampas oleh tentara Jepang.

Dan sewaktu tentara Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Kalau saja saat itu negatif film tersebut dirampas tentara Jepang, maka mungkin generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan tahu seperti apa peristiwa sakral tersebut.

Bahkan, mengenai kehadiran Frans di rumah Soekarno pada waktu itu, wartawan senior Alwi Shahab menulis "Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…" Tulisan itu dimuat di harian Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60.

Pencucian tiga buah foto bersejarah itu juga tidaklah mudah karena dihalang-halangi pihak Jepang. Frans bersama Alex terpaksa secara diam-diam harus mengendap, memanjat pohon pada malam hari, dan melompati pagar di samping kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA) untuk bisa sampai ke sebuah lab foto guna mencetak foto-foto tersebut. Padahal, bila dua bersaudara itu tertangkap oleh tentara Jepang, mereka akan dipenjara, bahkan dihukum mati.

Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi. Ada dugaan bahwa negatif film itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang dimiliki Antara lalu membakarnya.